Rabu Pon, 21 Agustus 2019
19 Dzulhijjah 1440 Hijriyah


Setitik Noda Akibat Diguna-guna


primbon wanita

Sebut saja namaku Rini Darwati. Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana di sebuah desa di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Ayahku seorang juru timbang di sebuah pabrik penggilingan padi dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga, ibu membuat beraneka kue yang dititipkannya di warung-warung di sekitar tempat tinggal kami. Meski hasilnya juga tidak seberapa, namun cukup untuk menutupi kebutuhan hidup sederahana keluargaku.

Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Meskipun seorang pegawai kecil dengan gaji tak seberapa namun ayahku mampu menyekolahkan anak-anaknya. Aku sendiri berhasil tamat SMU. Bahkan saat lulus ayah bemiat menyekolahkan aku di sebuah perguruan tinggi di Bandar Lampung. Namun niat ayah kutolak, karena aku tidak ingin terus membebani orangtuaku. Jujur saja, aku tidak tega melihat penderitaan orang tua, terutama adik-adikku. Mereka tentu ingin seperti anak-anak yang lain, punya uang gajan dan mainan bagus. Tetapi jangankan untuk jajan, sekedar untuk membeli buku dan kewajiban sekolah saja, orang tuaku harus pandai-pangai menyisihkan penghasilannya.

Jika kemudian ditambah dengan biaya sekolahku di Bandar Lampung tentu jatah untuk adik-adikku akan semakin berkurang. Hal itulah yang kemudian membulatkan tekadku untuk tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Aku ingin bisa membantu meringankan beban orang tuaku, dan membahagiakan adik-adikku. Beruntung aku dikaruniai wajah cantik. Tubuhku tinggi semampai dan berkulit kuning langsat. Aku tumbuh menjadi gadis idola lawan jenisku. Saat itu aku tumbuh bak sekuntum bunga yang mekar menyebar wangi semerbak hingga banyak kumbang berdatangan mendekatiku.

Dari sekian banyak pemuda yang mendekatiku, aku menjatuhkan pilihan pada Prasetio. Lelaki tampan yang kujadikan pilihan terakhirku itu adalah putra dari pemilik pabrik penggilingan padi tempat ayahku bekerja. Pernikahanku dengan Prasetio bukan tanpa kendala karena sebelumnya ibuku tidak setuju. "Keluarga Prasetio itu tidak seimbang dengan keluarga kita, Rin. Dia itu anak majikan ayahmu. Lalu apa kata orang nanti? lbu khawatir mereka menduga yang bukan-bukan tentang ayahmu. Mereka akan mengatakan kalau ayahmu sengaja menjual kamu pada orang kaya," ucap ibu.

Kekhawatiran ibu cukup beralasan karena saat aku berhubungan dengan Prasetio banyak orang di sekitarku yang mencibir dan ada yang terang terangan mengatakan kalau aku ini cewek matre. Tetapi aku punya alasan tersendiri untuk meyakinkan ibu. "Maaf, aku bukannya membantah ibu. Antara aku dan Prasetio saling mencintai. Antara kami berdua tidak ada paksaan dari pihak manapun, apalagi ayah,"jawabku.


"Tapi ibu tidak ingin kamu nanti dicibir orang," keluhnya. "Biarkan saja omongan orang, Bu. Tidak perlu kita dengar, apalagi dimasukan dalam hati. Mudah-mudahan aku tidak akan membuat ibu malu atau dicibir orang," ujarku. Berkat bujukan ayah memberi pengertian akhirnya hati ibu luluh dan menyetujui pernikahan kami. Aku gembira sekali karena menikah dengan orang yang memang aku dicintai dan kaya raya, serta mendapat restu dari orang tua. Banyak kisah cinta di mana sebuah keluarga yang dibangun dengan dasar cinta yang kokoh akhirnya ambruk karena ketiadaan restu dari orang tua. Aku tidak mau mengalami hal-hal seperti itu.

Setelah kedua keluarga menyetujui hubungan kami, maka jalan menunju pernikahan pun segara disiapkan. Didahului dengan lamaran dan adat istiadat lainnya, kami pun akhirnya duduk di atas pelaminan. Sesuai permintaan ibu, pesta pernikahan kami dibuat sesederhana mungkin agar tidak menimbulkan cibiran dari tetangga. Namun karena Prasetio berasal dari keluarga terpandang, tetap saja tamu yang datang berjubel. Pesta yang rencananya hanya sampai jam 2 siang, molor sampai jam 5 karena tamu-tamu terus berdatangan.

Aku tahu ibu bangga dengan pesta pernikahanku. Hal itu terlihat dari caranya menerima tamu-tamu. Aku senang sekali mengetahui hal itu. Jika orang tuaku sudah merasa bangga, tentunya restu amen terus menaungi kehidupan cinta kami. Hari-hari pernikahan kami diwarnai kebahagiaan. Canda tawa disertai bisikan-bisikan mesra membuat aku seperti dilambung kebahagiaan yang tak terperi.

Rasanya semua penderitaan selama ini sirna. Aku bangga dan bahagia sekali menjadi istri Prasetio. Setelah satu bulan tinggal di rumahku, Pras memboyongku ke Bandar Lampung. "Kasihan ayah dan ibu, mereka cuma tinggal berdua di rumah. Meta, adikku dibawa suaminya pindah ke Surabaya. Karena itulah aku mengajakmu tinggal di sini," kata mas Prasetio.

"Aku sih tidak keberatan, Mas. Cuma apakah kedua orangtuamu mau menerimaku?" tanyaku. "Pertanyaanmu lucu, Rin. Kamu kan menantunya. Istriku, berarti anak orang tuaku juga. Ya tentu mereka mau menerimamu. Justru mereka yang meminta agar kita tinggal di sana," jawab Prasetio. Omongan Presetio terbukti benar. Mertuaku itu sangat baik dan sayang padaku, serta tidak pernan menyinggung keadaan ekonomi orang tuaku. Di sini aku tidak terlalu repot karena pekerjaan rumah tangga adalah tugas dua orang pembantuku.

Namun ibarat roda, kebahagiaan yang baru aku rasakan muiai tergerus oleh masalah yang tidak terduga sama sekali. Menginjak tahun kedua kebahagiaanku mulai terusik. Aku mulai merasa cemas karena sejauh itu belum ada tanda-tanda kalau diriku hamil. Mas Prasetio memang tidak pernah menyinggung masalah itu, tetapi mertua perempuanku sering menyindirku, katanya dia sudah kebelet ingin menggendong cucu. Mulanya sindiran itu kuanggap sepele, karena ucapan mertuaku itu adalah permintaan yang wajar ditujukan pada pasangan yang baru menikah. Lagi pula kalau aku belum hamil mungkin belum saatnya saja, ucapku dalam hati.

Tetapi saat kemudian sindirian mertuaku itu berubah jadi sebuah tuntutan, maka timbullah rasa cemas itu. "Kau jangan kalah dengan Meta yang sudah memberi ibu seorang cucu yang lucu. Sayang dia harus pindah ke Surabaya. Kalau tidak, ibu saat ini tidak akan kesepian karena selalu mengendong cucu ibu," ucap ibu mertuaku dengan nada mendesak.

Mendengar itu aku hanya terdiam. Namun dalan hatiku timbul rasa gundah. Ibu benar, sebagai perempuan aku merasa kurang sempurna jika belum punya anak. "Coba bicarakan dengan suamimu masalah ini. Ajak dia ke dokter agar kalian berdua bisa mengetahui apa penyebabnya," ucap Mbak Maya tetangaku, saat aku curhat padanya. Apa yang diucapkan tetanggaku itu ada baiknya. Tetapi entahlah kenapa aku tidak berani melakukannya. Aku takut kalau suamiku akan merasa tersinggung. Apalagi selama ini kami tidak pernah bertengkar. Sore itu diam-diam aku mengunjungi dokter kandungan sendirian. Oleh dokter Hadi yang memeriksaku aku dinyatakan normal. "Kandungan ibu normal koq, ibu sabar saja dan jangan terlalu capek dan berpikir terlalu berat," ucap dokter Hadi.

Sebelum pulang aku diberi penyubur kandungan. Di rumah merasa lega karena ternyata aku sehat dan normal. Tetapi bagaimana dengan mas Prasetio? haruskah kuceritakan padanya tentang hasil pemeriksaan itu? tapi bagaimana kalau mas Pras tidak mau menerimanya, atau dia malah tersinggung karena menuduh dirinya mandul. Dalam kegalauan hatiku aku menghibur diri. Siang itu aku pamit pada mertuaku dengan alasan ingin mmenemui seorang teman lamaku. sebenarnya aku pergi ke Mall. Di sana aku tidak membeli apa apa. Aku iseng melihat-lihat saja. Setelah berkeliling aku duduk di sebuah memesan minuman segar. Aku mengambil tempat duduk agak di sudut. Saat aku sedang menikmatiyang kupesan aku mersa ada seseorang yang mengawasiku. 

Lelaki yang seberang tak jauh dari tempat aku duduk kulihat memandang tajam ke arahku. Lelaki itu tentu saja membuatku tidak nyaman. Aku segera berdiri untuk pergi, tetapi kulihat lelaki berdiri dan berjalan ke arahku. "Apakah kamu masih ingat aku?" sapa lelaki itu. Aku terdiam sambil berusaha mengingat siapa lelaki di hadapanku.

Duh...dia tersenyum! Senyumnya itu membuat dadaku jadi berdetak tak karuan."Si...Siapa,ya?" tanyaku. Lelaki itu lagi-lagi tersenyum. "Masa kau lupa? Aku Hendro!" katanya sambil tertawa riang. Hendro? mengingat nama itu pikiranku melayang pada masa beberapa tahun silam saat di SMU. Ya, Hendro adalah teman sekolahku saat di SMU dulu. Dia memang naksir aku dan sering mengejarku dan berulangkali menyatakan cintanya padaku, tetapi karena aku benci, tentu saja cintanya kutolak mentah-mentah. Dia memang anak orang kaya, tetapi sikapnya yang sombong dan selalu merendahkan perempuan membuat aku jadir benci sekali padanya. 

"Kau tambah cantik, Rin!" Suara Hendro membuyarkan lamunanku. “Kau juga tambah ganteng!" Jawabku tanpa ekspresi. Dia kembali tersenyum. Dan senyumnya itu lagi-lagi membuat perasaanku tak karuan entah kenapa tiba-tiba saja ada perasaan suka yang hadir dan membuatku tertarik padanya. Tanpa sadar, kami larut dalam obrolan yang mengasyikkan, Dan sejak itulah kami sering bertemu secara diam-diam tanpa aku bisa menolaknya.

Entah kenapa bersama Hendro aku merasa menemukan kebahagiaan tersendiri, hingga tanpa sadar aku menurut saja saat dia mengajak aku ke sebuah hotel dan kami melakukan hubungan terlarang. Anehnya perbuatan itu kami lakukan berulangkali tanpa merasa dihantui rasa bersalah sedikitpun.

Suatu hari aku merasa ada kelainan pada tubuhku. Saat aku memeriksakan diri ke dokter ternyata dokter menyatakan kalau aku positif hamil. Duh, Gusti... Aku tidak tahu pasti yang kurasakan pada saat itu. Perasaanku jadi tidak karuan. Aku bahagia karena aku hamil. Tetapi di sisi lain aku merasa cemas anak siapa yang ada cli rahimku ini? Apakah ini merupakan buah hubunganku dengan Hendro atau mas Prasetio, suamikui? Aku segera menelpon Hendro, tetapi tidak ada jawaban. Kecemasanku semakin memuncak saat aku mencoba berulang kali menelponnya namun tetap tidak ada jawaban. Saat itulah baru aku tersadar bahwa aku telah tertipu dengan segala bujug rayunya dan ketika aku tanya pada seorang paranormal, diapun mengatakan bahwa diriku terkena guna-guna.

Kehamilanku disambut gembira oleh keluarga Prasetio. "Akhirnya yang ibu tunggu-tunggu datang juga. Sebentar lagi aku akan menimang cucuku," ucap ibu mertuaku. Aku memang senang menerima kenyataan ini. Namun di balik itu terselip rasa cemas, takut kalau rahasia perselingkuhanku terbongkar. Tapi aku sekuat tenaga mencoba bersikap tenang. Aku berusaha menepis perasaan cemasku demi menyelamatkan bayi yang kukandung saat itu. Pembaca, beruntung aku melahirkan seorang bayi perempuan yang wajahnya mirip denganku. Hal ini tentu saja membuat hatiku sedikit merasa lega. Karena setidaknya aku telah terhindar dari prasangka buruk yang selama ini kutakuti. Bagaimana seandainya yang kulahirkan seorang bayi lelaki dan wajahnya sama sekali tidak mirip suamiku? Atau malah mirip Hendro? Tentu ini sebuah malapetaka bagiku, karena perasaan berdosa pasti akan terus menghatuiku setiap saat aku memandang wajah anakku itu.

Syukurlah ini tidak terjadi...Kehadiran anak pertama yang lucu dan pintar itu sangat menghibur diriku dan keluargaku. Sejenak aku bisa melupakan setitik noda hitam yang pernah kuiakukan dengan Hendro Si Jahanam itu. Kusebut dia lelaki jahanam karena kehadirannya saat itu ternyata semata-mata untuk membalas denclamnya di masa lalu karena aku telah menolak cintanya. Dia telah berhasil membalas rasa sakit hatinya dengan cara mengguna-gunaiku. Sungguh aku benar-benar telah tertipu.

Dua tahun kemudian aku kembali hamil. Kelahiran anakku yang kedua kurasakan seperti anugerah bagi keluargaku, karena ternyata Prasetio adalah lelaki sempurna. Hal seperti ini biasa terjadi di mana pada awalnya mungkin Prasetio kurang subur sehingga tidak berhasil membuahi indung telur. Namun setelah beberapa tahun, kesuburan Prasetio rupanya kembali normal sehingga mampu melahirkan anak ke dua. 

Duh, Gusti...Saat itu penyesalanku kembali muncul. Mengapa keharmonisan dan keutuhan cintaku pada Prasetio, harus kunodai dengan perbuatan terkutuk. Betapa bodohnya aku sebagai istri yang tidak mampu menjaga kehormatan suami. Mengapa aku begitu rnudah jatuh pada pelukkan laki-laki lain? Oh, betapa berdosanya diriku. Pembaca, kini kedua anakku sudah dewasa dan sudah berumah tangga dan aku sendiri sudah menjadi seorang nenek dengan lima orang cucu. Meskipun hari hariku kulalui dengan penuh kebahagiaan dengan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan sosial dan rutin mengikuti pengajian, namun kadangkala hatiku masih terusik oleh setitik noda yang pernah kulakukandi masa lalu.

Kini usiaku telah mencapai kepala enam. Seiring perjalanan waktu aku merasa kalau hidupku sudah di ambang kematian. Aku tidak ingin kalau nanti sampai ajal menjemputku aku masih menyimpan rahasia ini. Karena itu sengaja kuceritakan pada pembaca semuanya, kiranya ada yang bisa memberi pencerahan untukku atau setidaknya mengambil hikmah dari kisah hidupku yang hitam ini.









GEOMANCY

Metode ramalan yang menggunakan bumi sebagai mediumnya yakni dengan menafsirkan bentuk tanah dan pengaruh arus bumi. Metode ini termasuk juga menafsirkan titik-titik bumi, pola-pola yang dihasilkan oleh segenggam tanah yang jatuh ke dataran, menafsirkan gundukan, bunyi dan gerakan retakan-retakan yang dihasilkan oleh lumpur yang mengering.

METOPOSCOPY

Ramalan yang menggunakan metode pembacaan karakter melalui garis-garis yang ada dikening manusia.


belajar metafisika

info dunia gaib